Senin, 21 April 2014

Waiting for Nothing

Hari dimana aku pertama kali bertemu dengan dia, dia orang yang mengajarkan aku apa itu arti cinta dan dia yang membuat aku merasakan apa itu cinta. Dan setelah pertemuan itu membuat aku menjadi menyukai nya. ya, menyukai nya  secara diam-diam, mengangumi nya secara diam-diam, itu adalah aku.

Hampir enam bulan aku menyukai nya  secara diam-diam, mengangumi nya secara diam-diam, dan itu membuat aku jenuh akan perasaan ini. aku terus bertanya-tanya kepada diriku, mengapa aku terus menyukai nya secara diam-diam? Kenapa aku tidak menunjukkan kalau aku menyukai nya? hmm.. entahlah aku bingung akan perasaan ini yang terus menyukai nya.

Sudah tujuh bulan aku memendam perasaan ini, akhirnya aku memberanikan diri untuk mencoba mendekatinya, ya.. aku mendekatinya dan ternyata dia menanggapi ku. aku merasa semakin hari semakin aku dan dia menjadi dekat, bahkan aku merasa kalau dia juga menyukai ku, tapi entahlah mengapa dia tidak menyatakan cinta nya kepada ku.

Tiga bulan berlalu dan aku masih dekat dengan dia, dan pada saat itu aku menanyakan tentang perasaan nya kepada ku, pada saat itu dia menceritakan semua perasaan nya kepada ku, tapi akhirnya aku menemukan jawaban yang sangat menyakitkan, ternyata dia mendekati ku hanya untuk mendekati sahabat ku. Tuhan, kenapa hati ku terasa sakit? kenapa pria yang ku sukai ternyata menyukai sahabat ku sendiri? apa tidak ada jawaban selain itu? kenapa harus sahabat ku sendiri yang dia sukai? kenapa tidak aku saja yang ia sukai? aku yang sudah menyukainya sejak lama, menunggunya sejak lama, dan kenapa harus berakhir seperti ini? tapi entahlah tuhan tidak pernah menjawab pertanyaan ku.

Hari demi hari kulewati, tapi kenapa perasaan sakit ini terus ada didalam hati ku? kenapa tidak hilang bersamaan dengan pupus nya harapan ku menjadi kekasih nya? hmm.. entahlah aku bingung dengan perasaan ini. pada akhirnya aku sadar kalau cinta itu tidak harus dipaksakan, mungkin nanti suatu saat tuhan akan menjawab pertanyaan dan doa-doa ku ini, dan aku sadar bahwa penantian ku ini berujung sia-sia.

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar